Monday, January 19, 2015

Renungan Pendidikan #18

Ust. Harry Santosa

Firaun memang Raja Besar pada zamannya, kesuburan Mesir dengan aliran Sungai Nil membuat negeri ini bagai adidaya, bahkan Firaun menyebut dirinya "ana robbukumul a'laa" , sayalah Tuhan kalian yang Maha Tinggi. Pyramid dibangun memang sebagai Symbol keinginan menjadi Tuhan bahkan melampauiNya.

Allah mengadzab Firaun bukan karena Firaun tidak melek teknologi, tidak paham literasi, tidak piawai manajemen dan kepemimpinan dstnya, namun Allah mengadzab firaun karena "...aladzina thogow fil bilad", karena Firaun membangun sistem yg melampaui kewenangan Tuhan, sistem yang hendak menyeragamkan potensi fitrah fitrah. Tentu saja krn Firaun telah merasa telah menjadi Tuhan.

Padahal, karena bukan Tuhan maka sudah pasti sistem yang dibangunnya itu "..waaktsaru fihaalfasad", banyak merusak fitrah manusia dan alam.

Hari ini barangkali tidak ada yang sedigdaya Firaun, andai kedigdayaan Amerika setara Firaun, maka bisa dibayangkan begitu banyak bekal yang dibutuhkan Musa. Lihatlah bagaimana Allah membekali Musa as, sejak Harun as sebagai pendamping, sampai mukjizat yang sangat banyak. Kegentaran Musa as sangat manusiawi mengingat kehebatan Firaun. Firaun adalah lambang kekuatan sistem dalam ketaatan, kekuatan, keilmuan dan teknologi.

Namun hari ini, kita yg intelek, cerdas, melek literasi, jago komunikasi dll tergagap2 hanya utk mengatakan bahwa UN itu buruk, KurNas seragam itu buruk, sistem pendidikan yang ada itu buruk karena telah mencerabut banyak fitrah anak anak kita dstnya apalagi menghapusnya. Padahal mengatakan kebenaran seperti itu hanya didepan sebuah sistem yg tdk sehebat dan searogan Firaun.

Padahal kita punya banyak pilihan untuk mendidik anak2 kita sendiri di rumah2 kita, di komunitas kita secara berjamaah atau berbasis komunitas. Padahal hari ini kehebatan keilmuan itu bukan lagi ada di sekolah2 dan di kampus2, tetapi di tangan para Maestro Kehidupan dan dunia maya.

Mungkin Firaun Modern telah berhasil menyembelih mental LAKI-LAKI pada bangsa ini agar tidak lahir MUSA MUSA yang berani mengambil alih perbudakan belajar menjadi kemerdekaan belajar, perbudakan fitrah menjadi kemerdekaan fitrah.

Mungkin IBU IBU MUSA zaman ini, sudah tidak mau memberikan ASI. Pendidikan fitrahnya pada MUSA MUSA kecil yang masuk ke dalam sistem Firaunisme modern. Mereka lebih suka menyerahkan begitu saja anak anaknya untuk dipelihara firaun modern.

Mungkin mental budak kita sudah lebih buruk daripada mental budak bangsa Israil yang juga dijajah Firaun lebih dari 350 tahun sehingga sama sekali tidak berkenan hijrah.

Semoga Allah swt, melahirkan kembali Musa Musa peradaban dari rumah rumah kita dan di jamaah kita, melalui Ibu Ibu Musa yang mendidik anak2nya dari sumber kemurnian fitrah nya, semurni air susu para Bundanya.
Salam Peradaban 
‪#‎pendidikanberbasisfitrah dan akhlak
‪#‎pendidikanberbasispotensi

No comments:

Post a Comment