Pulau Benan, sebuah pulau mungil berbentuk ikan paus ini berlokasi di Kecamatan Senayang, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau. Perjalanan untuk mencapai Pulau Benan bisa ditempuh dari Batam maupun Tanjung Pinang. Berangkat dari Telaga Punggur, Batam kami menghabiskan waktu hampir 3 jam karena kapal yang kami naiki adalah kapal tua. Untuk membunuh kebosanan kami naik ke dek kapal dan didukung cuaca mendung maka lautan yang terhampar menjadi pemandangan yang menyejukkan mata. Tiba di dermaga kami disambut kesenian khas Melayu, dan diantar ke cottage yang telah tersedia di pinggir pantai. Dermaga dan pantai berada pada sisi yang berseberangan. Namun Anda tak perlu khawatir karena untuk mencapai pantai hanya memerlukan waktu kira-kira 10 menit berjalan kaki dari dermaga.
Kami tiba di Pulau Benan selepas siang. Sesampai di cottage, kami disuguhi kelapa muda yang baru dipetik, sungguh menyegarkan. Cottage kami terdiri atas 2 kamar dan satu kamar mandi. Jangan berharap fasilitas seperti hotel di pulau ini. Colokan listrik yang menyala hanya satu buah, sehingga untuk mengisi baterai handphone, harus bergantian. Fasilitas air bersih juga masih kurang. meskipun begitu, jalan-jalan sudah lumayan. Tak perlu kendaraan bermotor, karena dengan berjalan kaki pun, Anda akan puas mengelilingi pulau ini. Cottage menghadap ke pantai dengan hamparan pohon kelapa dan pasir putih di depan mata. Pantai yang memanjang menghadap ke arah timur akan memanjakan Anda ketika sunrise tiba. Sedangkan untuk pemburu sunset, Anda bisa mendapatkannya dengan berjalan ke Dermaga. Di sekitar pulau Benan terdapat kelong yang akan memanjakan Anda yang memiliki hobi memancing.
Seorang ibu, istri, anak dan auditor yang suka travelling menjelajahi tempat-tempat baru dan bercita-cita menjadi ibu rumah tangga. Motto: semakin tersesat semakin menyenangkan, asal tau jalan pulang.
Labels
- Attribute Standards (1)
- audit internal (1)
- caesar bpjs (1)
- informasi (2)
- ippf (1)
- kehamilan (2)
- kisah hidupku (2)
- kisah inspiratif (7)
- mandi bola (1)
- melahirkan (2)
- menyusui (1)
- parenting (23)
- pengetahuan (4)
- Performance Standards (1)
- perjalanan (6)
- perkembangan anak (2)
- point of view (17)
- tiket lebaran (1)
- tiketkai (1)
- tips (2)
- wisata (5)
Saturday, June 8, 2013
Friday, October 12, 2012
setahun perjalanan
30 September 2011 -- 1 Oktober 2012.
Tepat setahun perjalanan kami hingga akhirnya pengakuan itu datang.
30 September 2011. satu titik dalam perjalanan hidup kami dimulai. sejumlah seremoni acara pelepasan gelar kami sebagai mahasiswa dikumandangkan. KTM sudah tidak berlaku, aroma mahasiswa pun sudah harus dihilangkan. momen itu menjadi sebuah titik awal bahwa kami telah menapaki langkah berikutnya dalam perjalanan. konsekuensi panjang telah menanti seiring dilepaskannya status yang bernama mahasiswa. Namun itu bukanlah akhir sebuah perjuangan, melainkan sebuah titik awal menuju perjalanan berikutnya. lepasnya gelar kemahasiswaan justru menjadi sebuah lecutan bahwa kami harus mampu bertindak lebih baik, lebih dewasa dalam bersikap,lebih matang dalam pemikiran. empat bulan tanpa kabar membuat kami terbiasa dengan ketidakpastian dan kesabaran sampai akhirnya berita bahagia itu datang. ya, pengumuman instansi setelah empat bulan dalam kegamangan. titik cerah kehidupan pun dimulai. meskipun dengan penghasilan yang kurang, akhirnya status sosial kami di masyarakat terangkat. dengan status bekerja paling tidak kami diakui masyarakat sebagai seseorang yang tak tergantung lagi pada orang tua paling tidak secara finansial.
setelah delapan bulan ditempa dengan begitu banyak pengalaman dan hal baru di dunia permagangan, akhirnya kami pun diakui statusnya oleh negara sebagai CPNS. sebuah pijakan baru dalam kehidupan dan sekarang berbagai macam diklat menanti seiring terbitnya surat sakti kami
Wednesday, August 31, 2011
angka kembar
Ya, seiring diresmikannya KTP yang baru, kini angka kembar telah bernaung di atas kepalaku. Entah senang atau sedih yang jelas aku sangat bersyukur telah diberi kesempatan oleh Allah menjaga amanah usia ini.
Akan ada begitu banyak sejarah terukir di angka kembar ini. Ya, yudisium, wisuda, penempatan, magang, mungkin juga pengangkatan. Ups, padahal ada yang paling deket, UKS tahap 2. Hahaha. . . Entah mengapa aku tak merasa sedih atau galau atau apa lah bahasanya. Toh saya tak cuma sekali ini merasakan kegagalan tes. Lagipula kelulusan juga sudah di depan mata, jadi ya jalani saja. Jauh lebih menyesakkan ketika dulu ikut tes masuk salah satu perguruan tinggi negeri dengan jurusan yang sangat diinginkan, saya nyatakan bukan kedokteran lho ya, tetapi harus menelan pil pahit dan pada kenyataannya saya diarahkan untuk menempuh jalan lain yang ternyata luar biasa terbaik untuk saya. Pun juga dengan UKS 2 ini, inilah peringatan dan jalan terbaik atas apa yang telah saya lakukan. Pesan moralnya adalah, bersungguh-sungguhlah kamu dalam melakukan apa yang seharusnya kamu lakukan. Ya, usaha dan doa saya memang kurang. Jadi untuk ke depan, ketika melakukan sesuatu harus fokus Erna.
Yang jelas, ketika tunjangan untuk anak PNS resmi diberhentikan ketika sang anak berusia 21, yang artinya pemerintah berharap usia 21 adalah usia sang anak lepas dari orangtua, maaf ayah, anakmu terlambat. Dan mungkin saja sampai akhir tahun pun anakmu ini masih akan bergantung padamu.
Friday, August 26, 2011
pemimpin ideal
Pemimpin Ideal
Pemimpin yang cocok untuk Indonesia saat ini? Pertanyaan itu terus menggelayuti pikiranku sejak selesai kuliah KSPK pekan ini. Ya, aku yang sama sekali tidak tertarik pada dunia politik mau tak mau harus berpikir tentang pemimpin ideal yang sesuai untuk negeriku. Ideal? Saya rasa karena tak ada manusia yang sempurna, di zaman ini tak ada pemimpin ideal. Ya, harapan saya sich paling nggak calon pemimpin yang nantinya akan tampil dan bersaing dalam kancah perpolitikan negeri ini mendekati ideal lah, yang tentunya akan membawa perubahan yang lebih baik untuk negeri ini. Rakyat memang sudah bosan akan janji manis tanpa wujud nyata.
Mengingat perkembangan dunia global yang begitu pesat, saya rasa pemimpin yang mendekati ideal harus paham bagaimana dampak derasnya arus globalisasi. Perubahan yang begitu cepat membutuhkan pemimpin yang fleksibel dan cerdas, tapi tentu saja dia harus teguh memelihara kehormatan bangsa. Saya rasa tipe gabungan tipe Influence dan Steadyness paling cocok. Melalui tipe Influence, pemimpin harapan akan mampu melakukan negosiasi yang menguntungkan. Melalui tipe Steadyness, pemimpin akan mampu mengambil langkah yang hati-hati. Melalui gabungan kedua tipe itu, pemimpin akan mampu mengambil hati rakyat dan pemuka dunia dengan tetap memperhatikan dampak yang akan terjadi pada negeri ini tentunya.
Rakyat yang sudah terdidik akan demokrasi lebih membutuhkan pemimpin yang mampu mengambil hati rakyat tanpa menggunakan kekerasan. Dengan cara seperti itu, rakyat akan merasa dimanusiakan sehingga dalam pengambilan suatu kebijakan, tak akan ada perlawanan. Pemimpin sehebat apapun, tanpa dukungan rakyat, dia bukanlah apa-apa. Oleh karena itu tipe Influence bisa menarik kepercayaan rakyat, sehingga terciptalah hubungan yang baik antara pemerintah dengan rakyat. Jika hal itu sudah terjadi, maka rakyat dan pemerintah bisa bekerja sama demi mewujudkan Indonesia yang lebih baik.
Pemimpin yang cocok untuk Indonesia saat ini? Pertanyaan itu terus menggelayuti pikiranku sejak selesai kuliah KSPK pekan ini. Ya, aku yang sama sekali tidak tertarik pada dunia politik mau tak mau harus berpikir tentang pemimpin ideal yang sesuai untuk negeriku. Ideal? Saya rasa karena tak ada manusia yang sempurna, di zaman ini tak ada pemimpin ideal. Ya, harapan saya sich paling nggak calon pemimpin yang nantinya akan tampil dan bersaing dalam kancah perpolitikan negeri ini mendekati ideal lah, yang tentunya akan membawa perubahan yang lebih baik untuk negeri ini. Rakyat memang sudah bosan akan janji manis tanpa wujud nyata.
Mengingat perkembangan dunia global yang begitu pesat, saya rasa pemimpin yang mendekati ideal harus paham bagaimana dampak derasnya arus globalisasi. Perubahan yang begitu cepat membutuhkan pemimpin yang fleksibel dan cerdas, tapi tentu saja dia harus teguh memelihara kehormatan bangsa. Saya rasa tipe gabungan tipe Influence dan Steadyness paling cocok. Melalui tipe Influence, pemimpin harapan akan mampu melakukan negosiasi yang menguntungkan. Melalui tipe Steadyness, pemimpin akan mampu mengambil langkah yang hati-hati. Melalui gabungan kedua tipe itu, pemimpin akan mampu mengambil hati rakyat dan pemuka dunia dengan tetap memperhatikan dampak yang akan terjadi pada negeri ini tentunya.
Rakyat yang sudah terdidik akan demokrasi lebih membutuhkan pemimpin yang mampu mengambil hati rakyat tanpa menggunakan kekerasan. Dengan cara seperti itu, rakyat akan merasa dimanusiakan sehingga dalam pengambilan suatu kebijakan, tak akan ada perlawanan. Pemimpin sehebat apapun, tanpa dukungan rakyat, dia bukanlah apa-apa. Oleh karena itu tipe Influence bisa menarik kepercayaan rakyat, sehingga terciptalah hubungan yang baik antara pemerintah dengan rakyat. Jika hal itu sudah terjadi, maka rakyat dan pemerintah bisa bekerja sama demi mewujudkan Indonesia yang lebih baik.
sekelumit cerita wisudaku
Hari ini benar-benar menakjubkan. Ketika orang lain masih terbuai dengan mimpinya, ketika orang lain masih bantal guling dan merebahkan tubuh di atas kasur empuknya, kami, 400-an mahasiswa akuntansi sudah berjibaku dengan rumput di Lapangan A. bukan untuk memangkas rumput, bukan pula apel dinihari, apalagi jurit malam. Kami berkumpul di Lapangan A sejak tengah malam hanya demi selembar tiket yang akan dipersembahkan khusus untuk Ayah dan Bunda yang tengah menanti kepastian mengikuti prosesi wisuda anaknya 12 Oktober kelak. Ya, pukul 00.18 handphone bergetar cukup lama, pertanda ada telepon yang masuk. Awalnya sempat tak percaya bahwa ada kabar Lapangan A sudah ramai orang demi antrian jatah 2 pendamping. Namun, mendengar backsound yang begitu ramai, akhirnya kuyakinkan diriku untuk percaya, meski masih takjub. Segera aku menuju kamar mandi dan berganti seragam kuliah. Untuk lebih memastikan, ku sms beberapa teman dan mereka mengatakan hal yang sama. Dan ternyata inbox penuh dengan kabar untuk menuju Lapangan A segera. Ya, kumantapkan langkah dengan berlari. Pun ketika gerbang Kalimongso di depan mata yang masih terkunci dengan manisnya. Akhirnya kuputuskan memanjat pagar mungil berkawat duri di bagian atas tersebut. Untung kawat durinya tak menyeluruh, masih ada beberapa cm di pinggir yang memungkinkan kami, mahasiswi yang notabene harus memakai rok ke kampus, memanjat gerbang tersebut. Penuh perjuangan juga, gerbang Kalmong terlewati dan aku pun segera berlari menuju Lapangan A.
Subscribe to:
Posts (Atom)