Hari ini benar-benar menakjubkan. Ketika orang lain masih terbuai dengan mimpinya, ketika orang lain masih bantal guling dan merebahkan tubuh di atas kasur empuknya, kami, 400-an mahasiswa akuntansi sudah berjibaku dengan rumput di Lapangan A. bukan untuk memangkas rumput, bukan pula apel dinihari, apalagi jurit malam. Kami berkumpul di Lapangan A sejak tengah malam hanya demi selembar tiket yang akan dipersembahkan khusus untuk Ayah dan Bunda yang tengah menanti kepastian mengikuti prosesi wisuda anaknya 12 Oktober kelak. Ya, pukul 00.18 handphone bergetar cukup lama, pertanda ada telepon yang masuk. Awalnya sempat tak percaya bahwa ada kabar Lapangan A sudah ramai orang demi antrian jatah 2 pendamping. Namun, mendengar backsound yang begitu ramai, akhirnya kuyakinkan diriku untuk percaya, meski masih takjub. Segera aku menuju kamar mandi dan berganti seragam kuliah. Untuk lebih memastikan, ku sms beberapa teman dan mereka mengatakan hal yang sama. Dan ternyata inbox penuh dengan kabar untuk menuju Lapangan A segera. Ya, kumantapkan langkah dengan berlari. Pun ketika gerbang Kalimongso di depan mata yang masih terkunci dengan manisnya. Akhirnya kuputuskan memanjat pagar mungil berkawat duri di bagian atas tersebut. Untung kawat durinya tak menyeluruh, masih ada beberapa cm di pinggir yang memungkinkan kami, mahasiswi yang notabene harus memakai rok ke kampus, memanjat gerbang tersebut. Penuh perjuangan juga, gerbang Kalmong terlewati dan aku pun segera berlari menuju Lapangan A.
Seorang ibu, istri, anak dan auditor yang suka travelling menjelajahi tempat-tempat baru dan bercita-cita menjadi ibu rumah tangga. Motto: semakin tersesat semakin menyenangkan, asal tau jalan pulang.
Labels
- Attribute Standards (1)
- audit internal (1)
- caesar bpjs (1)
- informasi (2)
- ippf (1)
- kehamilan (2)
- kisah hidupku (2)
- kisah inspiratif (7)
- mandi bola (1)
- melahirkan (2)
- menyusui (1)
- parenting (23)
- pengetahuan (4)
- Performance Standards (1)
- perjalanan (6)
- perkembangan anak (2)
- point of view (17)
- tiket lebaran (1)
- tiketkai (1)
- tips (2)
- wisata (5)
Friday, August 26, 2011
Sunday, August 7, 2011
Masih Tentang Wisuda
Mengapa judulnya masih? Karena sebenarnya saya telah menulis uneg-uneg tentang kompre dan wisuda, tapi karena ada beberapa kata yang tidak pantas untuk dipublish, maka saya memutuskan biar tulisan itu tersimpan indah di laptop saya. Takutnya sih, nanti ada beberapa pihak yang tidak terima kalo saya publish.
Mendengar suara kedua orang nun jauh di lintas provinsi sangat menenangkan hatiku. Ya, setelah beberapa kali menunda menelepon karena merasa belum menemukan waktu yang pas, akhirnya mereka lah yang menghubungiku. Memang ya, kasih sayang dan rasa rindu orang tua jauh melebihi kasih sayang dan rindu anaknya. Meskipun hanya bertanya kabar, apa yang sedang dilakukan, dan masih punya uang kah, suara ayah dan ibu sangat meneduhkan. Ya, aku bersyukur memiliki keluarga yang hebat. Ibu dengan kesabaran, perjuangan dan kasih sayangnya. Ayah dengan perjuangan, kesetiaan dan dedikasinya. Adek dengan kemanjaan dan kelucuannya. Setelah beberapa kali becakap-cakap akhirnya kuberanikan juga berkata tentang polemik wisuda yang terjadi. Bahwa untuk mendapatkan dua pendamping harus rebutan. Ah, tak tega sebenarnya aku mengatakannya. Namun, harus bagaimana lagi. Jauh di lubuk hatiku aku tak bisa memilih. Hal ini ibarat aku harus memilih salah satu diantara mereka. Tentu saja aku tak akan pernah bisa. Dan ternyata kebijakan itu pun bersuara. Ya, ayah dengan bijaknya mengatakan hal itu tak menjadi masalah. Toh ayah bisa menunggu di luar. Miris sekali mendengarnya. Lelaki yang begitu setia menunggu ketika menjemputku pulang dari perantauan rela menunggu lagi di saat aku merayakan kelulusan di dalam gedung. Tidak, aku sungguh tak rela walaupun kutau ayah orang yang begitu supel. Jadi tak masalah jika beliau sendiri. Dengan cepatnya pasti beliau akan mendapat kawan bicara. Tapi tidak, aku tak terima. Aku yang melihat perjuangannya selama 22 tahun kehidupanku harus melihatnya menunggu sang puteri tercintanya di luar. Tidak ayah. Aku akan berjuang mendapatkan dua tiket itu. Doakan anakmu ayah, ibu.
Mendengar suara kedua orang nun jauh di lintas provinsi sangat menenangkan hatiku. Ya, setelah beberapa kali menunda menelepon karena merasa belum menemukan waktu yang pas, akhirnya mereka lah yang menghubungiku. Memang ya, kasih sayang dan rasa rindu orang tua jauh melebihi kasih sayang dan rindu anaknya. Meskipun hanya bertanya kabar, apa yang sedang dilakukan, dan masih punya uang kah, suara ayah dan ibu sangat meneduhkan. Ya, aku bersyukur memiliki keluarga yang hebat. Ibu dengan kesabaran, perjuangan dan kasih sayangnya. Ayah dengan perjuangan, kesetiaan dan dedikasinya. Adek dengan kemanjaan dan kelucuannya. Setelah beberapa kali becakap-cakap akhirnya kuberanikan juga berkata tentang polemik wisuda yang terjadi. Bahwa untuk mendapatkan dua pendamping harus rebutan. Ah, tak tega sebenarnya aku mengatakannya. Namun, harus bagaimana lagi. Jauh di lubuk hatiku aku tak bisa memilih. Hal ini ibarat aku harus memilih salah satu diantara mereka. Tentu saja aku tak akan pernah bisa. Dan ternyata kebijakan itu pun bersuara. Ya, ayah dengan bijaknya mengatakan hal itu tak menjadi masalah. Toh ayah bisa menunggu di luar. Miris sekali mendengarnya. Lelaki yang begitu setia menunggu ketika menjemputku pulang dari perantauan rela menunggu lagi di saat aku merayakan kelulusan di dalam gedung. Tidak, aku sungguh tak rela walaupun kutau ayah orang yang begitu supel. Jadi tak masalah jika beliau sendiri. Dengan cepatnya pasti beliau akan mendapat kawan bicara. Tapi tidak, aku tak terima. Aku yang melihat perjuangannya selama 22 tahun kehidupanku harus melihatnya menunggu sang puteri tercintanya di luar. Tidak ayah. Aku akan berjuang mendapatkan dua tiket itu. Doakan anakmu ayah, ibu.
Monday, July 4, 2011
senja di senja bengawan
Malam ini tepat seminggu yang lalu aku merasakan kehidupan golongan menengah ke bawah. Ya, empat belas jam tanpa beranjak dari papan besi pintu kereta yang telah tertutup membuatku belajar banyak hal. Kadang memang timbul rasa iri ketika melihat film atau dorama Jepang. Kapan ya negeri ini memiliki mode transportasi masal yang nyaman yang mementingkan keselamatan dan kepuasan masyarakat. Ya, meski ada bus transjakarta yang murah meriah, atau MRT yang sungguh keren bila benar-benar terealisasi, atau KRL AC ekonomi yang murah juga, tapi kapasitas mereka belum bisa memenuhi kebutuhan masyarakat, dan tentu saja baru bisa dinikmati warga kawasan ibukota dan sekitarnya.
Ya, mau bagaimana lagi, dengan hanya mengeluarkan tiga puluh tujuh ribu rupiah, kita sudah akan diantar dengan selamat sampai ibukota. Wajarlah jika fasilitasnya juga seperti harganya. Jangan bayangkan mendapat selimut, kursi empuk yang bisa disetel sesuai kebutuhan, makan malam yang menyenangkan kalau tak mau bayar 250ribu untuk fasilitas eksekutif. Yah, kereta ekonomi memang masih menjadi favorit masyarakat dibandingkan bus ekonomi minimal seharga 70an ribu, atau dengan kereta bisnis yang fasilitasnya tak jauh beda dengan harga hampir empat kali lipat. Tentu saja dengan status mahasiswa, aku pun akan memilih fasilitas kereta ekonomi. Meski berdesak-desakan, mendengar nyanyian pedagang sepanjang malam, hal itu tak mengurangi eksotisme pengguna jasa kereta ekonomi. Justru dengan interaksi seperti itu, aku mendengar banyak hal, banyak cerita dari banyak pengalaman. Seperti cerita bapak yang kebetulan senasib. Aku masih jauh lebih baik, bisa bersandar di pojokan pintu dan duduk di tas yang berisi pakaian. Lumayan empuk lah. Aku tak harus duduk di toilet seperti sebuah keluarga dari Klaten yang bernasib sama seperti kami.
Dari perbincangan dengan orang-orang sekitar, aku mendapat banyak hal. Seperti bapak di sampingku yang dengan polosnya berandai jika presiden kita merasakan apa yang dirasakan rakyat, apa yang akan dia lakukan. Kata-kata yang cukup menusuk pikiranku. Ya, akankah kelak jika aku memenuhi baktiku pada negeri dan mendapat kepercayaan yang tinggi, akankah aku ingat sepenggal kisah semalam itu. Semoga saja aku tidak terlena pesona dunia Ya Allah, aamiin.
Ada juga bapak di sampingnya yang begitu bijaknya menyikapi pertanyaan dan pernyataan tentang kampus kami. Bapak itu dengan bijaknya mengatakan bahwa input dan proses yang baik, tak selamanya menghasilkan output dan outcome yang baik. Pasti adalah scrap producnya.(redaksi disesuaikan denga audit dan cost acc.). cukup melegakan karana begitu ditanya kuliah dimana, reaksi orang memang berbeda-beda. Ada yang memuji, tak jarang melecehkan,. Ah, sudahlah, bagiku mungkin karena meraka tidak tahu bagaimana keadaan kami, jadi mereka mengambil kesimpulan sendiri. Ya, meski aku juga tak memungkiri bahwa aku tak sepenuhnya bersih.
Malam menjelang dan penumpang kereta pun satu-persatu tertidur. Panasnya udara tak menghalangi kenyenyakan sesaat. Ketika kereta berhenti, pintu sedikit dibuka, dan angin surga pun masuk. Begitulah kata mereka. Mereka yang rela membanting tulang ke tanah yang jauh dari kampung halaman demi keluarga tercinta. Perjuangan yang begitu tulus dan ikhlas demi orang-orang terkasih. Betapa aku merasa tak ada apa-apanya dibanding mereka.
Menjelang subuh, kereta merangkak menuju Bekasi. Seorang ibu yang akan turun bercerita pada kami bahwa orang-orang yang beruntung bisa menikmati tempat duduk bukanlah semata karena keberuntungan mereka. Ini karena perjuangan mereka. Kereta yang baru beranjak pukul 5 sore sudah mereka tempati puluk 10 pagi. Aduh, aku merasa pengorbananku tak ada apa-apanya. Yah, aku memang datang pukul 10 pagi, abis itu, pulang lagi lah. Pamitan sama eyang, ngobrol dengan tetangga dan keluarga sementara mereka dengan sabarnya duduk di dalam kereta yang baru akan berangkat tujuh jam lagi. Belum lagi perjalanan 13 jam. Genap 20 jam mereka berada di dalam gerbong. Aduh, aku malu dengan diriku. Betapa aku belum membulatkan tekadku ketika ingin mencapai sesuatu. Tak apalah, nikmatilah sensasinya, pintu kereta senja bengawan 27 juni 2011.
_aliefha 75_4 juli 2011_22:45
Ya, mau bagaimana lagi, dengan hanya mengeluarkan tiga puluh tujuh ribu rupiah, kita sudah akan diantar dengan selamat sampai ibukota. Wajarlah jika fasilitasnya juga seperti harganya. Jangan bayangkan mendapat selimut, kursi empuk yang bisa disetel sesuai kebutuhan, makan malam yang menyenangkan kalau tak mau bayar 250ribu untuk fasilitas eksekutif. Yah, kereta ekonomi memang masih menjadi favorit masyarakat dibandingkan bus ekonomi minimal seharga 70an ribu, atau dengan kereta bisnis yang fasilitasnya tak jauh beda dengan harga hampir empat kali lipat. Tentu saja dengan status mahasiswa, aku pun akan memilih fasilitas kereta ekonomi. Meski berdesak-desakan, mendengar nyanyian pedagang sepanjang malam, hal itu tak mengurangi eksotisme pengguna jasa kereta ekonomi. Justru dengan interaksi seperti itu, aku mendengar banyak hal, banyak cerita dari banyak pengalaman. Seperti cerita bapak yang kebetulan senasib. Aku masih jauh lebih baik, bisa bersandar di pojokan pintu dan duduk di tas yang berisi pakaian. Lumayan empuk lah. Aku tak harus duduk di toilet seperti sebuah keluarga dari Klaten yang bernasib sama seperti kami.
Dari perbincangan dengan orang-orang sekitar, aku mendapat banyak hal. Seperti bapak di sampingku yang dengan polosnya berandai jika presiden kita merasakan apa yang dirasakan rakyat, apa yang akan dia lakukan. Kata-kata yang cukup menusuk pikiranku. Ya, akankah kelak jika aku memenuhi baktiku pada negeri dan mendapat kepercayaan yang tinggi, akankah aku ingat sepenggal kisah semalam itu. Semoga saja aku tidak terlena pesona dunia Ya Allah, aamiin.
Ada juga bapak di sampingnya yang begitu bijaknya menyikapi pertanyaan dan pernyataan tentang kampus kami. Bapak itu dengan bijaknya mengatakan bahwa input dan proses yang baik, tak selamanya menghasilkan output dan outcome yang baik. Pasti adalah scrap producnya.(redaksi disesuaikan denga audit dan cost acc.). cukup melegakan karana begitu ditanya kuliah dimana, reaksi orang memang berbeda-beda. Ada yang memuji, tak jarang melecehkan,. Ah, sudahlah, bagiku mungkin karena meraka tidak tahu bagaimana keadaan kami, jadi mereka mengambil kesimpulan sendiri. Ya, meski aku juga tak memungkiri bahwa aku tak sepenuhnya bersih.
Malam menjelang dan penumpang kereta pun satu-persatu tertidur. Panasnya udara tak menghalangi kenyenyakan sesaat. Ketika kereta berhenti, pintu sedikit dibuka, dan angin surga pun masuk. Begitulah kata mereka. Mereka yang rela membanting tulang ke tanah yang jauh dari kampung halaman demi keluarga tercinta. Perjuangan yang begitu tulus dan ikhlas demi orang-orang terkasih. Betapa aku merasa tak ada apa-apanya dibanding mereka.
Menjelang subuh, kereta merangkak menuju Bekasi. Seorang ibu yang akan turun bercerita pada kami bahwa orang-orang yang beruntung bisa menikmati tempat duduk bukanlah semata karena keberuntungan mereka. Ini karena perjuangan mereka. Kereta yang baru beranjak pukul 5 sore sudah mereka tempati puluk 10 pagi. Aduh, aku merasa pengorbananku tak ada apa-apanya. Yah, aku memang datang pukul 10 pagi, abis itu, pulang lagi lah. Pamitan sama eyang, ngobrol dengan tetangga dan keluarga sementara mereka dengan sabarnya duduk di dalam kereta yang baru akan berangkat tujuh jam lagi. Belum lagi perjalanan 13 jam. Genap 20 jam mereka berada di dalam gerbong. Aduh, aku malu dengan diriku. Betapa aku belum membulatkan tekadku ketika ingin mencapai sesuatu. Tak apalah, nikmatilah sensasinya, pintu kereta senja bengawan 27 juni 2011.
_aliefha 75_4 juli 2011_22:45
Saturday, June 18, 2011
Penempatan
“Jangan pernah takut ditempatkan di daerah karena di daerah kita bisa membentuk karakter diri ”. Begitulah inti pertemuan dengan dosen pembimbing semalam. Ya, beliau telah malang melintang ke daerah di Jawa Barat dan Kalimantan selama masing-masing lima tahun. Sebenarnya dalam hati, aku insyaallah memang siap jika nanti ditempatkan di mana saja. Mendengar kisah sang dosen semalam, hatiku menjadi semakin mantap untuk tak ingin penempatan di ibukota. Ya, penempatan adalah satu topik yang umum di bahas mahasiswa tingkat akhir seperti aku. Ya, nggak kalah sama topic pernikahan lah.
ya, tak terasa memang kami, mahasiswa tingkat 3 STAN hanya tinggal menempuh kuliah kira-kira satu setengah bulan lagi. KTTA sebagai salah satu syarat kelulusan pun sudah memasuki tahap-tahap akhir. Ya, sekarang yang dipikirkan adalah UAS terakhir, kompre, yudisium, wisuda dan tentu saja hati berdebar menunggu pengumuman penempatan.bulan Oktober nanti, peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah hidup kami akan terjadi.
Wisuda. Siapa orang tua yang tak bangga anaknya telah diwisuda. Kami pun berharap orang tua kami akan tersenyum melihat kami memakai toga dan mendampingi kami dalam rangkaian acara menyambut kelulusan. Yah, kami menyebutnya dengan “sekolah’ memang telah selesai dijalani. Namun, ini bukan berarti akhir pembelajaran. Justru setelah kalian diwisuda, memasuki kehidupan bermasyarakatlah ujian kalian yang sebenarnya. Kata-kata itu yang sampai sekarang terngiang di kepalaku. Memang benar adanya. Mendengar pengalaman senior yang telah bekerja, cerita orang tua dan tetangga, kehidupan kita benar-benar diuji justru bukan saat kita berada di bangku formal pendidikan, melainkan saat kita berhadapan dengan masyarakat. Di sinilah ketrampilan hidup tentang bagaimana kita berbaur, apa tujuan hidup kita, bagaimana kita beradaptasi benar-benar diuji. Memang bukan nilai di atas kertas yang akan kita dapat, melainkan nilai di hati setiap orang yang kita temui dalam kehidupan kita.
Setelah wisuda dijalani, kami harus melalui serangkaian tahapan sebelum masuk ke dunia kerja. Pengumuman penempatan, pemberkasan, dll masih harus kami jalani. Penempatan. Bagi sebagian orang mungkin menjadi suatu momok. Bagaimana kalau nanti gak di Jakarta. Bagaimana bila nanti “dilempar” ke daerah. Sebenarnya saya kurang setuju dnegan kata “dilempar” atau “dibuang”. Bukankah dnegan di daerah justru kita dipercaya dapat berkontribusi membangun daerah tersebut. Bukankah mengabdi pada negara tak harus di ibukota atau daerah sendiri. Indonesia luas bung. Di mana pun kita berada, di mana pun kelak kita ditempatkan, selama masih di bumi nusantara, kita tak perlu takut. Orang-orang di daerah kelak kita ditempatkan, mereka adalah saudara sebangsa dan setanah air. Mungkin kita nanti menemukan lingkungan yang kurang sreg di hati, tapi bukankah justru di situlah tantangan kita. Sanggupkah kita menghadapi zona tak nyaman tersebut? Bukankah di daerah kita bisa berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Rasa persaudaraan pun akan semakin erat. Kita juga bisa menyumbangkan apa yang selama ini kita pelajari. Kita bisa menyumbangkan ide-ide brilian kita untuk turut membangun daerah.
Ya, cerita-cerita penuh hikmah dari sang dosen semalam semakin membuatku sadar. Fakta telah berbicara. Bagaimana peraturan-peraturan yang dibuat oleh orang yang tak pernah terjun langsung ke masyarakat menimbulkan begitu banyak interpretasi di kalangan pelaksana. Bagaimana peraturan-peraturan yang dibuat oleh orang yang selalu berada dalam zona nyaman, dalam praktiknya justru bukan menjadi solusi. Memang kita belum mengalaminya, tapi seandainya kita berada dalam zona nyaman tersebut (dalam artian penempatan langsung di kantor pusat) apakah kita akan berpikir tentang teman-teman kita di Mimika, Bau-Bau, Tahuna dan tempat-tempat yang mungkin tak tertulis di peta. Tak mungkin. Kita akan sibuk memikirkan “penyelamatan diri”. Bagaimana caranya agar saya tetap aman. Bagaimana saya agar tak perlu menelusuri pelosok daerah. Keegoisan kita yang akan berbicara. Kita tidak pernah merasakan bagaimana sulitnya berhadapan dengan masyarakat secara langsung. Hidup hanya untuk membicarakan pekerjaan kantor dan tua di jalan. Tak ada waktu untuk bersosialisasi jika kalian penempatan di kantor pusat. Jika hati tidak kuat, kalian akan lupa segalanya dan terbuai gemerlapnya kehidupan ibukota. Rapat di hotel, malamnya ke bar, siang rapat lagi, malam keluyuran lagi. Begitu menggodanya kehidupan dunia. Lain halnya jika kita penempatan di daerah. Kita tak perlu berhadapan dengan macet. Sepulang kerja bisa bersosialisasi, waktu untuk keluarga jelas ada. Kalaupun kalian penempatan di Jakarta, akan lebih baik jika berada dalam lingkungan yang berhadapan langsung dengan masyarakat. Dari interaksi itu kita bisa belajar banyak hal dibandingkan hanya bertemu rekan sekantor, membicarakan hal kantor, ketemu orang ditanyain masalah kantor, kantor dan kantor. Betapa sayang waktu dan energi kita jika hanya untuk mengurusi masalah kantor. Jadi waktu yang tepat untuk membentuk karakter kita adalah ketika kita menjadi pelaksana, yang terjun langsung menghadapi masyarakat. Di sanalah tujuan hidup kita akan terbentuk.
Jika tujuan hidup kita adalah kekayaan, maka kekayaan dunia tak akan ada habisnya. Ibarat minum air laut, semakin diminum maka kita akan semakin haus. Begitulah inti pelajaran KSPK bebarapa hari yang lalu. Dan ternyata hal yang diajarkan dosen KSPK dan dosbing KTTA sama. Jadikanlah tujuan hidup kita “peran” dalam masyarakat. Seberapa bergunanyakah kamu hidup dalam masyarakat. Hidup kita Cuma sekali, maka jadikanlah itu berarti. Belajar bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja..
Jadi intinya, bersiaplah di mana saja kita akan ditempatkan. Instansi dan daerah penempatan bukanlah masalah jika tujuan kita adalah untuk mengabdi kepada negara. Seperti kata ibu saya ”Asalkan bandara masih buka tiap hari, ibu tidak akan mempermasalahkan di mana pun nanti kamu akan tinggal”. Selama masih berada di bumi Allah, insyaallah kita akan selalu berada dalam naungan-Nya.
ya, tak terasa memang kami, mahasiswa tingkat 3 STAN hanya tinggal menempuh kuliah kira-kira satu setengah bulan lagi. KTTA sebagai salah satu syarat kelulusan pun sudah memasuki tahap-tahap akhir. Ya, sekarang yang dipikirkan adalah UAS terakhir, kompre, yudisium, wisuda dan tentu saja hati berdebar menunggu pengumuman penempatan.bulan Oktober nanti, peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah hidup kami akan terjadi.
Wisuda. Siapa orang tua yang tak bangga anaknya telah diwisuda. Kami pun berharap orang tua kami akan tersenyum melihat kami memakai toga dan mendampingi kami dalam rangkaian acara menyambut kelulusan. Yah, kami menyebutnya dengan “sekolah’ memang telah selesai dijalani. Namun, ini bukan berarti akhir pembelajaran. Justru setelah kalian diwisuda, memasuki kehidupan bermasyarakatlah ujian kalian yang sebenarnya. Kata-kata itu yang sampai sekarang terngiang di kepalaku. Memang benar adanya. Mendengar pengalaman senior yang telah bekerja, cerita orang tua dan tetangga, kehidupan kita benar-benar diuji justru bukan saat kita berada di bangku formal pendidikan, melainkan saat kita berhadapan dengan masyarakat. Di sinilah ketrampilan hidup tentang bagaimana kita berbaur, apa tujuan hidup kita, bagaimana kita beradaptasi benar-benar diuji. Memang bukan nilai di atas kertas yang akan kita dapat, melainkan nilai di hati setiap orang yang kita temui dalam kehidupan kita.
Setelah wisuda dijalani, kami harus melalui serangkaian tahapan sebelum masuk ke dunia kerja. Pengumuman penempatan, pemberkasan, dll masih harus kami jalani. Penempatan. Bagi sebagian orang mungkin menjadi suatu momok. Bagaimana kalau nanti gak di Jakarta. Bagaimana bila nanti “dilempar” ke daerah. Sebenarnya saya kurang setuju dnegan kata “dilempar” atau “dibuang”. Bukankah dnegan di daerah justru kita dipercaya dapat berkontribusi membangun daerah tersebut. Bukankah mengabdi pada negara tak harus di ibukota atau daerah sendiri. Indonesia luas bung. Di mana pun kita berada, di mana pun kelak kita ditempatkan, selama masih di bumi nusantara, kita tak perlu takut. Orang-orang di daerah kelak kita ditempatkan, mereka adalah saudara sebangsa dan setanah air. Mungkin kita nanti menemukan lingkungan yang kurang sreg di hati, tapi bukankah justru di situlah tantangan kita. Sanggupkah kita menghadapi zona tak nyaman tersebut? Bukankah di daerah kita bisa berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Rasa persaudaraan pun akan semakin erat. Kita juga bisa menyumbangkan apa yang selama ini kita pelajari. Kita bisa menyumbangkan ide-ide brilian kita untuk turut membangun daerah.
Ya, cerita-cerita penuh hikmah dari sang dosen semalam semakin membuatku sadar. Fakta telah berbicara. Bagaimana peraturan-peraturan yang dibuat oleh orang yang tak pernah terjun langsung ke masyarakat menimbulkan begitu banyak interpretasi di kalangan pelaksana. Bagaimana peraturan-peraturan yang dibuat oleh orang yang selalu berada dalam zona nyaman, dalam praktiknya justru bukan menjadi solusi. Memang kita belum mengalaminya, tapi seandainya kita berada dalam zona nyaman tersebut (dalam artian penempatan langsung di kantor pusat) apakah kita akan berpikir tentang teman-teman kita di Mimika, Bau-Bau, Tahuna dan tempat-tempat yang mungkin tak tertulis di peta. Tak mungkin. Kita akan sibuk memikirkan “penyelamatan diri”. Bagaimana caranya agar saya tetap aman. Bagaimana saya agar tak perlu menelusuri pelosok daerah. Keegoisan kita yang akan berbicara. Kita tidak pernah merasakan bagaimana sulitnya berhadapan dengan masyarakat secara langsung. Hidup hanya untuk membicarakan pekerjaan kantor dan tua di jalan. Tak ada waktu untuk bersosialisasi jika kalian penempatan di kantor pusat. Jika hati tidak kuat, kalian akan lupa segalanya dan terbuai gemerlapnya kehidupan ibukota. Rapat di hotel, malamnya ke bar, siang rapat lagi, malam keluyuran lagi. Begitu menggodanya kehidupan dunia. Lain halnya jika kita penempatan di daerah. Kita tak perlu berhadapan dengan macet. Sepulang kerja bisa bersosialisasi, waktu untuk keluarga jelas ada. Kalaupun kalian penempatan di Jakarta, akan lebih baik jika berada dalam lingkungan yang berhadapan langsung dengan masyarakat. Dari interaksi itu kita bisa belajar banyak hal dibandingkan hanya bertemu rekan sekantor, membicarakan hal kantor, ketemu orang ditanyain masalah kantor, kantor dan kantor. Betapa sayang waktu dan energi kita jika hanya untuk mengurusi masalah kantor. Jadi waktu yang tepat untuk membentuk karakter kita adalah ketika kita menjadi pelaksana, yang terjun langsung menghadapi masyarakat. Di sanalah tujuan hidup kita akan terbentuk.
Jika tujuan hidup kita adalah kekayaan, maka kekayaan dunia tak akan ada habisnya. Ibarat minum air laut, semakin diminum maka kita akan semakin haus. Begitulah inti pelajaran KSPK bebarapa hari yang lalu. Dan ternyata hal yang diajarkan dosen KSPK dan dosbing KTTA sama. Jadikanlah tujuan hidup kita “peran” dalam masyarakat. Seberapa bergunanyakah kamu hidup dalam masyarakat. Hidup kita Cuma sekali, maka jadikanlah itu berarti. Belajar bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja..
Jadi intinya, bersiaplah di mana saja kita akan ditempatkan. Instansi dan daerah penempatan bukanlah masalah jika tujuan kita adalah untuk mengabdi kepada negara. Seperti kata ibu saya ”Asalkan bandara masih buka tiap hari, ibu tidak akan mempermasalahkan di mana pun nanti kamu akan tinggal”. Selama masih berada di bumi Allah, insyaallah kita akan selalu berada dalam naungan-Nya.
Wednesday, March 9, 2011
hikmah perjalanan_Bandung-Solo
Cerita ini mengisahkan seorang anak manusia yang sedang melakukan perjalanan panjang dari Bandung ke Solo. Ya, malam ini aku akan menghabiskan waktuku di perjalanan menuju Solo tercinta. Setelah perjuangan yang begitu keras, akhirnya aku mendapatkan tiket bus yang akan mengantar ragaku ini ke kota tercinta. Meski tempat duduk paling belakang, okelah, disyukuri saja. Maklum, pesen tiketnya juga dadakan. Oke, selepas maghrib bus beranjak meninggalkan agen di jalan Dago. Pelan namun pasti, bus mengantarku keluar dari Bandung. Karena bertepatan dengan jam pulang kantor, maka seperti bisaa, gak di Jakarta, gak di Bandung sama aja, macet. Okelah, kuhabiskan waktu dengan tidur saja, ditemani alunan merdu dari mp3, aku melayang ke alam mimpi.
Beberapa saat kemudian aku terbangun, dan ternyata bus masih terjebak di Bandung. Di sampingku adalah seorang ibu yang ternyata seumuran dengan ibuku yang membawa serta anaknya. Kami pun berkenalan dan mengobrol. Ternyata beliau adalah seorang guru akuntansi di sebuah SMK di Bandung. Nyambung banget lah. Ibu itu tanya aku ngapain ke Bandung. Main Bu, ke rumah temen, mumpung lagi liburan. Ternyata si ibu juga punya hobi yang sama, suka jalan-jalan bahkan sampai sekarang. Waktu mudanya dihabiskan di Jogja dan Purwokerto. Kadang beliau terdampar sampai Garut. Wow, menarik. Ibu itu mengisahkan masa mudanya,. Sebenarnya dari wajahnya kutaksir usianya masih 30an lho, ternyata sudah 48. Efek pake jilbab kali ye, jadi tetep terlihat cantik meskipun usia tak muda lagi. Dia juga menceritakan anak-anaknya, 7 orang kalo gak salah, agak lupa juga soalnya. Pas beliau tanya saudaraku berapa, dengan malu-malu, aku bilang cuma satu. Koq dikit amat ya. Ya, sebenarnya sich kami tiga bersaudara, Cuma pas ibu mengandung adikku yang pertama, beliau keguguran. Jadilah kami sepasang, aku adalah anak yang paling cantik, adikku anak yang paling ganteng.
Ibu itu juga menceritakan bahwa kali sebenarnya tujuannya adalah Surabaya. Karena tiket habis, jadilah ntar transit di Solo atau Jogja. Beliau ntar mau melanjutkan perjalanan naik kereta. Wuih, perjalanan yang amat panjang. Ternyata tujuan beliau ke Surabaya disebabkan oleh kematian ayahanda beliau. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Hanya kepada Allah lah tempat kembali. Jadi inget pelajaran budnus tentang filosofi tumpeng,. Entah berapa kali aja aku ditanya pertanyaan yang sama. Cabe yang melengkung menandakan setelah kematian itu ada arahnya, dan telur atau bawang yang ada di pucak tumpeng menandakan manusia itu berasal dari telur. Ya, memang kita semua berasal dari sel telur yang dibuahi.
Oke, kembali ke cerita awal. Ternyata si ibu sebenarnya sudah mendapat firasat harus ke Surabaya, tapi beliau tunda terus, karena saat ini beliau sedang menempuh S2. Apalagi pekerjaan sebagai seorang ibu dan guru juga menyita banyak waktu. Ternyata emang saya mesti ke Surabaya ya Dhek, kata ibu itu. Ya, diambil hikmahnya aja Bu. Beliau juga agak tersedu ketika menceritakan kenangan bersama ayahnya. Aduh, aku jadi teringat kedua orang tuaku. Ya, teringat akan semua jasa mereka yang tak mungkin bisa kubalas. Bahwa kebersamaan dengan mereka tak akan bisa digantikan oleh apa pun. Bahwa tiap saat mereka berdoa untukku, merestui jalan yang kutempuh. Meski aku dulu sempat kesal. Ya, waktu masih SD kelas 1 dan 2, aku pernah kesal, tapi kupendam. Kenapa sich ibuku tak seperti ibu teman-temanku. Mereka menunggui teman-temanku ketika TK. Tapi aku sendiri. Ketika pulang sekolah pas SD, ibu juga ada menunggu di rumah, tapi aku harus menunggu jam 12 untuk bertemu ibu. Sampai-sampai baju ganti pun disediakan di kursi teras, setelah itu aku main ke tempat nenek. Betapa tidak bersyukurnya aku waktu itu. Ya, jiwa anak kecil yang masih polos. Kini, betapa bersyukurnya aku, ibuku walaupun wanita karier, tapi hanya 5 jam lah beliau di luar. Paling gak selepas zuhur, ibu sudah pulang. Begitu juga dengan ayah, jadinya kalau aku minta jemput, ato ada apa-apa dulu pas SMP dan SMA, ayah selalu ada. Nantinya, bisakah aku seperti ibu yang selalu bisa menyediakan waktunya untukku. Bisakah nanti aku menyediakan waktu untuk anak-anakku. I hope so.
Kembali ke cerita tadi, ibu itu juga membangunkanku ketika bus berhenti. Entah di daerah mana, tapi aku enggan beranjak dari tempatku, udah pewe soalnya. Kulanjutkan lagi menuju buaian alam mimpi. Tengah malam entah jam berapa ketika aku terbangun, anak ibu itu bertanya apakan air yang sekarang dia bawa milikku. Bukan dhek, punya Mbak ada di tas koq. Subhanallah, anak usia 10 tahun kutaksir itu begitu jujurnya. Bahkan dia sangat menjaga makanan dan minuman yang masuk perutnya.
Ketika jam menunjukkan pukul 07.00, sampailah bus di Jogja, tepatnya di depan Stasiun Tugu. Ibu itu tergesa-gesa ingin turun. Kuberi tahu bahwa aka nada kereta jam setengah 8 yang menuju Surabaya. Ibu itu akhirnya turun, jadilah tempat dudukku longgar sekarang. Bus melanjutkan perjalanan. Koq asing ya, ini di jogja, tapi bukan seperti tempat biasa kulewati. Dan benar saja, ternyata bus lewat jalur ringroad utara. Pantes aja, yang ku tahu kan ringroad selatan ma timur.
Jam setangah sepuluh bus masuk terminal Tirtonadi. Kata awak bus sich bisa turun di Kentingan. Oke lah, mending turun di Kentingan aja. Ternyata pas keluar dari bus, tinggal 2 penumpang yang tidak turun di Tirtonadi. Kami pun ngobrol dengan pak sopir. Sopirnya bingung ketika menanyaiku, kuliah di Jakarta, tadi dari Bandung, terus turun dekat UNS, sekarang mau naik bus lagi ke Matesih. Hohoho, setelah kujelaskan bahwa kali ini liburan, akhirnya main ke Bandung, sekarang turun dekat UNS, soalnya banyak temen yang kos di belakang UNS, tapi mau pulang ke Matesih, bapak sopir ngerti juga. Aku diturunkan di Pedaringan karena memang di situlah tempat pemberhentian terakhir. Pak sopirnya malah takut kalo aku berpikir yang enggak2, koq diturunkan di tempat seperti itu. Tenang Pak, saya udah berapa tahun aja ya, sejak SMA lah kenal daerah ini. Hehehe, salut juga buat bapak sopir itu, dia menjaga dirinya dari prasangka orang.
Sekarang sampai di Pedaringan, nyebrang sekali, nunggu lah bus yang akan membawaku ke terminal Matesih. Aih2, koq lama. 15 menit menunggu, aku udah gak sabar. Ya iyalah, bepergian dalam keadaan belum madi dan sarapan adalah sesuatu yang tidak menyenangkan. Mau ke kos temen, enggak ah. Takutnya mereka lagi pada pulkam, kan hari libur. Akhirnya ada bus jurusan Tawangmangu. Ya udahlah, naik itu aja. Begitu sampai di Karangpandan, kulihat sesosok pria tangguh telah menantiku dengan sabarnya. Ya ayah telah datang menjemput. Huwa, lega rasanya. Kucium tangannya dan kami menuju rumah tercinta. Gak ada sepuluh menit, sampailah aku di surga duniaku. Airnya masih segar dan bening saja. Tapi tetep, ada yang berubah tiap kali aku pulang. Apa sajakah yang berubah, nantikan kelanjutannya.
Beberapa saat kemudian aku terbangun, dan ternyata bus masih terjebak di Bandung. Di sampingku adalah seorang ibu yang ternyata seumuran dengan ibuku yang membawa serta anaknya. Kami pun berkenalan dan mengobrol. Ternyata beliau adalah seorang guru akuntansi di sebuah SMK di Bandung. Nyambung banget lah. Ibu itu tanya aku ngapain ke Bandung. Main Bu, ke rumah temen, mumpung lagi liburan. Ternyata si ibu juga punya hobi yang sama, suka jalan-jalan bahkan sampai sekarang. Waktu mudanya dihabiskan di Jogja dan Purwokerto. Kadang beliau terdampar sampai Garut. Wow, menarik. Ibu itu mengisahkan masa mudanya,. Sebenarnya dari wajahnya kutaksir usianya masih 30an lho, ternyata sudah 48. Efek pake jilbab kali ye, jadi tetep terlihat cantik meskipun usia tak muda lagi. Dia juga menceritakan anak-anaknya, 7 orang kalo gak salah, agak lupa juga soalnya. Pas beliau tanya saudaraku berapa, dengan malu-malu, aku bilang cuma satu. Koq dikit amat ya. Ya, sebenarnya sich kami tiga bersaudara, Cuma pas ibu mengandung adikku yang pertama, beliau keguguran. Jadilah kami sepasang, aku adalah anak yang paling cantik, adikku anak yang paling ganteng.
Ibu itu juga menceritakan bahwa kali sebenarnya tujuannya adalah Surabaya. Karena tiket habis, jadilah ntar transit di Solo atau Jogja. Beliau ntar mau melanjutkan perjalanan naik kereta. Wuih, perjalanan yang amat panjang. Ternyata tujuan beliau ke Surabaya disebabkan oleh kematian ayahanda beliau. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Hanya kepada Allah lah tempat kembali. Jadi inget pelajaran budnus tentang filosofi tumpeng,. Entah berapa kali aja aku ditanya pertanyaan yang sama. Cabe yang melengkung menandakan setelah kematian itu ada arahnya, dan telur atau bawang yang ada di pucak tumpeng menandakan manusia itu berasal dari telur. Ya, memang kita semua berasal dari sel telur yang dibuahi.
Oke, kembali ke cerita awal. Ternyata si ibu sebenarnya sudah mendapat firasat harus ke Surabaya, tapi beliau tunda terus, karena saat ini beliau sedang menempuh S2. Apalagi pekerjaan sebagai seorang ibu dan guru juga menyita banyak waktu. Ternyata emang saya mesti ke Surabaya ya Dhek, kata ibu itu. Ya, diambil hikmahnya aja Bu. Beliau juga agak tersedu ketika menceritakan kenangan bersama ayahnya. Aduh, aku jadi teringat kedua orang tuaku. Ya, teringat akan semua jasa mereka yang tak mungkin bisa kubalas. Bahwa kebersamaan dengan mereka tak akan bisa digantikan oleh apa pun. Bahwa tiap saat mereka berdoa untukku, merestui jalan yang kutempuh. Meski aku dulu sempat kesal. Ya, waktu masih SD kelas 1 dan 2, aku pernah kesal, tapi kupendam. Kenapa sich ibuku tak seperti ibu teman-temanku. Mereka menunggui teman-temanku ketika TK. Tapi aku sendiri. Ketika pulang sekolah pas SD, ibu juga ada menunggu di rumah, tapi aku harus menunggu jam 12 untuk bertemu ibu. Sampai-sampai baju ganti pun disediakan di kursi teras, setelah itu aku main ke tempat nenek. Betapa tidak bersyukurnya aku waktu itu. Ya, jiwa anak kecil yang masih polos. Kini, betapa bersyukurnya aku, ibuku walaupun wanita karier, tapi hanya 5 jam lah beliau di luar. Paling gak selepas zuhur, ibu sudah pulang. Begitu juga dengan ayah, jadinya kalau aku minta jemput, ato ada apa-apa dulu pas SMP dan SMA, ayah selalu ada. Nantinya, bisakah aku seperti ibu yang selalu bisa menyediakan waktunya untukku. Bisakah nanti aku menyediakan waktu untuk anak-anakku. I hope so.
Kembali ke cerita tadi, ibu itu juga membangunkanku ketika bus berhenti. Entah di daerah mana, tapi aku enggan beranjak dari tempatku, udah pewe soalnya. Kulanjutkan lagi menuju buaian alam mimpi. Tengah malam entah jam berapa ketika aku terbangun, anak ibu itu bertanya apakan air yang sekarang dia bawa milikku. Bukan dhek, punya Mbak ada di tas koq. Subhanallah, anak usia 10 tahun kutaksir itu begitu jujurnya. Bahkan dia sangat menjaga makanan dan minuman yang masuk perutnya.
Ketika jam menunjukkan pukul 07.00, sampailah bus di Jogja, tepatnya di depan Stasiun Tugu. Ibu itu tergesa-gesa ingin turun. Kuberi tahu bahwa aka nada kereta jam setengah 8 yang menuju Surabaya. Ibu itu akhirnya turun, jadilah tempat dudukku longgar sekarang. Bus melanjutkan perjalanan. Koq asing ya, ini di jogja, tapi bukan seperti tempat biasa kulewati. Dan benar saja, ternyata bus lewat jalur ringroad utara. Pantes aja, yang ku tahu kan ringroad selatan ma timur.
Jam setangah sepuluh bus masuk terminal Tirtonadi. Kata awak bus sich bisa turun di Kentingan. Oke lah, mending turun di Kentingan aja. Ternyata pas keluar dari bus, tinggal 2 penumpang yang tidak turun di Tirtonadi. Kami pun ngobrol dengan pak sopir. Sopirnya bingung ketika menanyaiku, kuliah di Jakarta, tadi dari Bandung, terus turun dekat UNS, sekarang mau naik bus lagi ke Matesih. Hohoho, setelah kujelaskan bahwa kali ini liburan, akhirnya main ke Bandung, sekarang turun dekat UNS, soalnya banyak temen yang kos di belakang UNS, tapi mau pulang ke Matesih, bapak sopir ngerti juga. Aku diturunkan di Pedaringan karena memang di situlah tempat pemberhentian terakhir. Pak sopirnya malah takut kalo aku berpikir yang enggak2, koq diturunkan di tempat seperti itu. Tenang Pak, saya udah berapa tahun aja ya, sejak SMA lah kenal daerah ini. Hehehe, salut juga buat bapak sopir itu, dia menjaga dirinya dari prasangka orang.
Sekarang sampai di Pedaringan, nyebrang sekali, nunggu lah bus yang akan membawaku ke terminal Matesih. Aih2, koq lama. 15 menit menunggu, aku udah gak sabar. Ya iyalah, bepergian dalam keadaan belum madi dan sarapan adalah sesuatu yang tidak menyenangkan. Mau ke kos temen, enggak ah. Takutnya mereka lagi pada pulkam, kan hari libur. Akhirnya ada bus jurusan Tawangmangu. Ya udahlah, naik itu aja. Begitu sampai di Karangpandan, kulihat sesosok pria tangguh telah menantiku dengan sabarnya. Ya ayah telah datang menjemput. Huwa, lega rasanya. Kucium tangannya dan kami menuju rumah tercinta. Gak ada sepuluh menit, sampailah aku di surga duniaku. Airnya masih segar dan bening saja. Tapi tetep, ada yang berubah tiap kali aku pulang. Apa sajakah yang berubah, nantikan kelanjutannya.
Subscribe to:
Posts (Atom)