Hari ini 040311 tujuan kami adalah Bandung. Kisah ini masih menceritakan 3 anak manusia yang bernama Erna, Inten, dan Hani. Bisa dibilang mewakili kos Aliefha, bisa mewakili keluarga Happy Tree Family, bisa juga dibilang mewakili 2 bidang Himas, Pora dan SPK. Aih2, banyak amat ya yang diwakili. Ya, begitulah kami. Walaupun pada kenyataannya akan ada 2 personil tambahan dalam petualangan kali ini. Siapa dia? Kita kembali setelah pesan-pesan berikut. Lho!
Masih menaiki kendaraan yang sama seperti ke Tangkuban Perahu, elf. Kami berangkat lebih pagi daripada kemarin. Biar lama di Bandungnya, hehehehe. . . Setelah sarapan cakue dan masakan lezat Mamanya Inten, kami menuju terminal yang sama, Terminal Subang. Kami beruntung, dengan adanya kami bertiga, elf tinggal menunggu satu penumpang lagi. Tak berapa lama kemudian, seorang openumpang dating dan memenuhi elf yang akan kami tumpangi, berangkaaaaaaaaaaattttttttt. Masih melewati rute yang sama, masih dengan pemandangan yang sama, kali ini melewati juga beberapa papan yang bertuliskan kebun stroberi di Lembang. Ahhhhhhh, pengeeeeeeeeeennnnn. Ya sudah, ntar cari aja di Tawangmangu yang deket rumah.
Perjalanan memakan waktu sekitar 2 jam lah. Tujuan pertama kami: Stasiun Hall. Kenapa stasiun? Karena rencananya hari itu juga aku pulang ke Solo naik kereta api tut tut tut. Dan ternyataaaaaaaaaaa, Lodaya Malam sudah habis. Kereta bisnis tujuan Surabaya pun juga habis. Yang ada apa? Mutiara Selatan. Berapa bayarnya? 190ribu. Noooooooooo. Akhirnya aku memutuskan lebih baik pulang naik bus saja lah.
Kecewa yang menyelimuti karena gagal mendapat tiket kereta tak menghalangi niat kami berkeliling Bandung. Ya, dari stasiun Hall, kami menuju Pasar Baru. Mau tau gimana sich perbedaan pusat grosir di tiap-tiap kota. Ternyata pusat grosir memang memiliki ciri khasnya sendiri. Tanah Abang di Jakarta, Pasar Baru di Bandung, Beringharjo di Jogja, sampai PGS-BTC-Klewer di Solo memiliki daya tarik masing-masing lah. Di Pasar Baru, kami mendapat tambahan personil untuk jalan-jalan. Sebut saja namanya Fini, teman Inten yang pernah merasakan suasana yang begitu menarik di Aliefha.
Di Pasar Baru, kami mengandalkan Inten dan Fini untuk menawar barang yang ingin kami beli. Maklum, mereka kan bias bahasa Sunda, sedangkan saya, Sunda pasif saja masih belepotan. Sebut saja Cuma mengerti dikit-dikit lah, kan Bahasa Sunda mirip-mirip ma Bahasa Jawa.
Perjuangan paling berat ketika di pasar Baru adalah mendapatkan sepatu yang diincar Hani. Maklum, orang satu ini memang memiliki ukuran sepatu yang super dan seleranya juga super. Mengincar merk C*****se yang tak biasa, namun terkendala harga. Yah, awalnya dia menawar 60ribu untuk sepasang sepatu yang bertarif 125ribu kata si penjual. Tapi si penjual menurunkan harganya menjadi 80ribu. Ya sudahlah, keliling cari yang lain aja dulu, siapa tau dapet yang lebih murah. Rupanya setelah berkeliling mulai lantai dasar sampai lantai teratas, tidak ada penjual yang menjual sepatu yang sama. Tunggu, di lantai teratas ada foodcourt lho. Kami makan siang di sana. Tapi saya sarankan buat yang pengen ke Pasar Baru dan tak ingin diganggu kenyamannya waktu makan, foodcourt lantai teratas bukanlah pilihan terbaik. Baru saja melangkah beberapa meter dari escalator, Anda kan segera dirubungi sales makanan. Mana mereka maksa lagi. Huh, sebenernya illfeel banget pas itu. Tapi apa boleh buat, perut sudah meronta. Harga yang ditawarkan juga lumayan mahal untuk ukuran mahasiswa. Apalagi porsinya dikit. Hmmmmmmmm, ya sudahlah, disyukuri saja masih bisa makan siang.
Selanjutnya, usai makan siang, Hani kembali mendatangi penjual sepatu yang diincarnya. Wow, kali ini tarifnya lebih mahal. 100ribu. Padahal tadi udah sampai 80 ribu. Akhirnya kami mengunjungi pusat sepatu yang berada beberapa ratus meter dari Pasar Baru. Entah apa namanya yang jelas kawasan itu terdiri beberapa pertokoan yang menjual aneka sepatu, tapi ternyata oh ternyata, sepatu yang dimaksud tak ada. Akhirnya diputuskanlah kembali ke Pasar bru. Daaaannnnnnn ternyataaaaaaaaaaa, harganya naik lagi jadi 110ribu, dah gak boleh ditawar. Kiyaaaaaaaaaaa………. Hani akhirnya nyerah demi sepatu incarannya. Ya sudahlah, yang penting dapet.
Puas cari oleh2, dalam hal ini makanan juga lho ya, baju yang beli cuma Inten, aku dapet jaket buat adhekku tersayang, dan Hani dapet sepatu incerannya, kami berpisah dengan Fini. Hiks2, ya sudah, mg lain kali bias jalan bareng lagi.
Tujuan selanjutnya adalah ITB. Karena hari juga udah masuk waktu Ashar, kami sholat di masjid Salman. Usai sholat, kami bertemu tambahan personil lainnya. Jeng jeng jeng, Ryan lah orangnya. Awalnya kami ngobrol2 gak jelas seperti biasa.
Laluuuuuuuuu, aku bilang mau pulang Solo hari ini, kira-kira agen bus dimana aja ya. Sebenernya manggil Ryan sich buat menemani dan mencarikan bus, aduh, maaf ya Ryan, dipanggil buat direpotin. Dan memang benar saja, Ryan lah yang repot nyariin agen bus. Bandung E****ss full, nyari satu lagi, lupa namanya juga full. Tanya mbah Google, ternyata ada agen bus deket ITB, oke, ditelfon, masih ada 3 kursi. Oke lah, akhirnya hari itu juga aku pulang. Mendekati pukul 5 sore, Inten dan Hani pamit duluan ke Subang, takutnya udah gak ada angkot lagi kalo kemaleman. Oke, paling gak aku gak sendiri di kota yang baru pertama kali aku datangi. Benar juga perkiraan dulu pas SMA ikut study tournya ke Bali, toh kalo ke Bandung bisa ntar sendiri, meski Bali juga ntar bisa sendiri sich.
Oke, menjelang maghrib, kami mendatangi agen bus itu. Benar saja, ternyata Cuma seratus dua ratus meter lah dari ITB. Menunggu sejenak. Ryan pun pulang. Tak berapa lama bus yang membawaku ke Solo datang. Hmmmmmm, lega rasanya.
Seorang ibu, istri, anak dan auditor yang suka travelling menjelajahi tempat-tempat baru dan bercita-cita menjadi ibu rumah tangga. Motto: semakin tersesat semakin menyenangkan, asal tau jalan pulang.
Labels
- Attribute Standards (1)
- audit internal (1)
- caesar bpjs (1)
- informasi (2)
- ippf (1)
- kehamilan (2)
- kisah hidupku (2)
- kisah inspiratif (7)
- mandi bola (1)
- melahirkan (2)
- menyusui (1)
- parenting (23)
- pengetahuan (4)
- Performance Standards (1)
- perjalanan (6)
- perkembangan anak (2)
- point of view (17)
- tiket lebaran (1)
- tiketkai (1)
- tips (2)
- wisata (5)
Tuesday, March 8, 2011
Monday, March 7, 2011
hikmah perjalanan_Tangkuban Perahu
Tangkuban perahu, ya itulah tujuan kami hari itu. Kamis 030311 kami mengawali hari dengan wajah sumringah. Berpijak dari Subang pukul delapan lewat lah, kami menuju terminal bus. Di sana kami akan naik kendaraan yang terbilang unikyang disebut “elf”. Nama yang begitu eksotik. Bentuknya seperti “colt” kalau di daerahku. Elf melayani transportasi jurusan Subang-Bandung. Angkutan umum yang satu ini tak akan mau berangkat kalau penumpangnya belum penuh. Penuh dalam hal ini berarti berdesak-desakan. Satu elf bisa diisi lebih dari 20 orang. Ketika kami datang masih ada sisa tempat untuk empat orang. Alhasil kami harus menunggu. Tepat pukul sembilan, elf penuh dan kami pun berangkat. Ongkos tiap orang adalah 12.000 rupiah. Turun dimana pun tetap bayar segitu karena elf tidak menaikkan penumpang di jalan.
Kami bertiga, Erna, Inten dan Hani pun meluncur dari Subang menuju Tangkuban Perahu. Perjalanan satu jam terasa sangat menyenangkan. Banyak sekali hal yang mengingatkanku pada keadaan di rumah. Entah jalannya yang berkelak-kelok, naik turun, sampai letter S khas pegunungan, udaranya yang segar, maupun hamparan kebun teh yang mengingatkanku pada daerah Kemuning.
Kami turun di gerbang bawah. Di sana kami ditawari naik angkot kuning sampai dekat kawah. Sopir angkot kuning itu sangat gigih menawarkan jasanya. Kami pun menolak dengan halus. Tujuan datang kesini kan untuk jalan-jalan. Gak asyik lah kalo gak capek. Ternyata gerbang bawah udah lama ditutup. Kami pun jalan ke gerbang atas. “Mendaki gunung lewati pinus, jalan membentang indah di Tangkuban, bersama teman bertualang”. Lagu OST Ninja Hatori menemani perjalan kami. Setelah berjalan kurang lebih 1km, ada angkot kuning yang menawarkan jasanya pada kami. Karena keadaan jalan naik menguras tenaga kami, akhirnya kami bernegosiasi dulu dengan kenek angkotnya. Katanya sich bayarnya cuma 11ribu. Ah, mahal. Si kenek menjelaskan kalau itu sudah termasuk tiket masuk. Ya udahlah, oke, kami naik angkot kuning tersebut. Ternyata cukup jauh jarak dari gerbang loket sampai ke lokasi kawah. Hmmmmmmm, kalo jalan, tadi gimana ya, kasian si kaki.
Saat hampir sampai bibir kawah, ternyata kami ditarik ongkos 40 ribu per orang, aih, mahalnyo. Ternyata udah gak bias dinego lagi. Tapi sebenarnya kami lebih kasian sama mas-mas yang naik angkot yang sama. Dia kena 70ribu. Perampokan secara halus ni. Buat yang mau ke Tangkuban Perahu, lebih baik jangan naik angkutan umum lah. Bawa kendaraan pribadi aja. Buat pemda Subang, diperbaiki lah layanan wisatanya. Tangkuban Perahu kan sudah terkenal, fasilitasnya diperbaiki dong. Paling gak ada angkutan umum dari gerbang sampai atas. Jangan cuma dari parkiran bus saja. Jarak parkir bus-gerbang loket kan sangat jauh. Kasian kalau jalan. Lebih kasian lagi kalau kena perampokan kayak kami. Ternyata hal itu juga udah berlangsung sejak lama. Udah pernah masuk surat pembaca lagi, tolong keluhan masyarakat diperhatikan dong.
Kembali ke cerita angkot tadi. Angkot kuning itu benar-benar preman. Harusnya kalo emang masang tariff 40ribu, ngomong dari awal dong. Awalnya aja bilangnya cuma 11ribu. Kami benar-benar tidak ikhlas. Padahal tiket masuk 13ribu, dan untuk kami bertiga cuma dikasih 1 tiket. Gak berkah tu duit.
Oke, karena udah bayar mahal, kami tak boleh menyia-nyiakan kesempatan. Mulai lah kami berkeliling kawah yang sangat eksotis itu. Dari sudut mana pun terhampar pemandangan yang begitu menakjubkan. Betapa diri ini merasa sangat kecil dihadapan-Nya. Padahal tempat itu hanya setitik dibandingkan bumi. Padahal bumi hanya setitik dibandingkan alam semesta. Betapa kecilnya kami dihadapan-Mu, ya Allah. Tak akan cukup waktu sehari untuk mengabadikan setiap titik di kawasan itu. Di depan kami terlihat kawah yang begitu mempesina, di belakang berdiri megah hamparan gunung-gunung. Sebelah kanan awan putih nan lembut dan kabut tipis menggoda menyapa. Wow, amazing.
Puas foto-foto di sekitar kawah Ratu, kami memutuskan ke kawah Domas. Suasana mistis menyelimuti jalanan menuju kawah Domas. Pohon-pohon dengan bentuknya yang unik menyapa kami. Jalanan yang sepi, kicauan burung menambah suasana menjadi damai. Di tengah perjalanan, rasa ragu menyelimuti naluri kami. Akhirnya kami memutuskan kembali, padahal sudah berjalan beberapa ratus meter. Sampai di sekitar kawah Ratu, kami memutuskan mencari makan siang. Ah, sangat tidak menyenangkan. Jauh-jauh ke Tangkuban Perahu, makanannya bakso Solo, udah gitu lagunya Stasiun Balapan. Ada sisi positifnya sich, berarti masyarakan kita telah menyebar dan menyatu. Tapi kesel juga sich. Maunya kan menikmati makanan khas setempat. Yang paling berkesan tentu saja suara angklung yang begitu indah. Pantas saja Malaysia mengklaim angklung sebagai budayanya. Emang begitu indah dan menenangkan suaranya. Apalagi dinikmati di pegunungan dengan hawa segar dan angin yang sepoi-sepoi. Baru pertama kali ini aku mendengarkan angklung dalam suasana yang damai seperti ini.
Lanjut ah, karena emang udah laper, ya udah lah, bakso Solo juga gak papa. Ternyata oh ternyata, harganya 10 ribu sodara-sodara. Dua kali lipat harga Kalimongso. Padahal di rumah, bakso Kamal pun 3ribu juga bias dapet. Hahaha, efek orang yang terbiasa tinggal di tempat yang biaya hidupnya murah. Akhirnya cari penjual lain, daaaaaaaaaaaaaaannnnnnn, dapet lah semangkok 6 ribu. Inten hebat, nawarnya pake bahasa Sunda lah, hehehehe.
Kami pun menikmati semangkok bakso, segelas bandrek yang ditawar jadi 3 ribu per gelas, dan ketan bakar seharga 10ribu 3. Kayak kaos kaki di pasar malem warung jengkol aja. Beberapa saat kemudian, hujan rintik-rintik menyapa. Ya sudahlah, kami berteduh di gedung pusat informasi. Setelah gerimis reda, kami memutuskan mengelilingi kawah Upas. Tak terlalu jauh memang, palingan 500 meter. Padahal pas tanya ibu-ibu katanya 1200meter. Pas tanya jarak kawah Domas juga segitu. Apa mereka tahunya jarak cuma 1200 meter ya, entahlah. Lupakan saja. Yang jelas berada di kawah Upas sangat menyenangkan. Kami bias berfoto dengan backgroung yang menakjubkan, berteriak sekenceng-kencengnya. Bias tiduran juga lho. Kalo mau mengelilingi bibir kawah, juga bias. 3 jam katanya. Ah, tidak, terima kasih, membayangkan saja sudah ngeri. Apalagi buat aku yang takut ketinggian. Jalanan terjal mendaki dengan kawah nan curam dan dalam tepat di samping kita. Yang jelas bukan keadaan jalannya yang membuatku ngeri. Tepat bibir kawah itu lho. Sebenarnya dalam hati pengen sich, tapi tidak ah.
Setelah puas menikmati kawah Upas, kami memutuskan pulang. Jalan kaki lah, kan
jalanan turun, tidak akan menyita tenaga sebanyak kalau naik. Apalagi tiap 100 meter mungkin, ada shelter. Oke, kami berjalan kaki turun ke gerbang. Melihat ada masjid di parkir bus, kami singgah ke sana, masjid yang menenangkan. Bertahtakan cat hijau muda, sangat menyejukkan. Apalagi airnya yang mak nyes, mengingatkanku pada air di rumah saat subuh, atau air di Tawangmangu lah. Kami beristirahat sejenak setelah sholat di masjid itu. Abis itu, lanjut jalan lagi. Baru berjalan beberapa puluh meter, ada elf GRPP menawarkan tumpangan pada kami. Bayarnya berapa? Cukup 10 ribu bertiga. Gak seperti angkot kuning preman tadi. Huwaaaaaaaaaaa, sampailah kami di gerbang dan disodori hamparan kebun teh. Akhirnya kami foto-foto di kebun teh itu. Gerimis melanda lagi dan pada saat yang bersamaan ada angkot ke Subang, kami pun naik angkot itu. Tarifnya 10ribu sampai Subang.
O ya, tambahan informasi, harusnya di soal budnus gak cuma perbedaan gadis Sunda ma Minahasa, tapi juga perbedaan kebun teh di Subang dan di Karanganyar. Mau tahu jawabannya? Silakan kunjungi Tangkuban Perahu dan Air Terjun Jumog atau Candi Sukuh atau Candi Cetha. Anda akan melihat perbedaannya (malah promosi… biarin, majukan pariwisata domestic kita dong, kalau bukan kita, siapa lagi, kalau bukan sekarang, kapan lagi
Kami bertiga, Erna, Inten dan Hani pun meluncur dari Subang menuju Tangkuban Perahu. Perjalanan satu jam terasa sangat menyenangkan. Banyak sekali hal yang mengingatkanku pada keadaan di rumah. Entah jalannya yang berkelak-kelok, naik turun, sampai letter S khas pegunungan, udaranya yang segar, maupun hamparan kebun teh yang mengingatkanku pada daerah Kemuning.
Kami turun di gerbang bawah. Di sana kami ditawari naik angkot kuning sampai dekat kawah. Sopir angkot kuning itu sangat gigih menawarkan jasanya. Kami pun menolak dengan halus. Tujuan datang kesini kan untuk jalan-jalan. Gak asyik lah kalo gak capek. Ternyata gerbang bawah udah lama ditutup. Kami pun jalan ke gerbang atas. “Mendaki gunung lewati pinus, jalan membentang indah di Tangkuban, bersama teman bertualang”. Lagu OST Ninja Hatori menemani perjalan kami. Setelah berjalan kurang lebih 1km, ada angkot kuning yang menawarkan jasanya pada kami. Karena keadaan jalan naik menguras tenaga kami, akhirnya kami bernegosiasi dulu dengan kenek angkotnya. Katanya sich bayarnya cuma 11ribu. Ah, mahal. Si kenek menjelaskan kalau itu sudah termasuk tiket masuk. Ya udahlah, oke, kami naik angkot kuning tersebut. Ternyata cukup jauh jarak dari gerbang loket sampai ke lokasi kawah. Hmmmmmmm, kalo jalan, tadi gimana ya, kasian si kaki.
Saat hampir sampai bibir kawah, ternyata kami ditarik ongkos 40 ribu per orang, aih, mahalnyo. Ternyata udah gak bias dinego lagi. Tapi sebenarnya kami lebih kasian sama mas-mas yang naik angkot yang sama. Dia kena 70ribu. Perampokan secara halus ni. Buat yang mau ke Tangkuban Perahu, lebih baik jangan naik angkutan umum lah. Bawa kendaraan pribadi aja. Buat pemda Subang, diperbaiki lah layanan wisatanya. Tangkuban Perahu kan sudah terkenal, fasilitasnya diperbaiki dong. Paling gak ada angkutan umum dari gerbang sampai atas. Jangan cuma dari parkiran bus saja. Jarak parkir bus-gerbang loket kan sangat jauh. Kasian kalau jalan. Lebih kasian lagi kalau kena perampokan kayak kami. Ternyata hal itu juga udah berlangsung sejak lama. Udah pernah masuk surat pembaca lagi, tolong keluhan masyarakat diperhatikan dong.
Kembali ke cerita angkot tadi. Angkot kuning itu benar-benar preman. Harusnya kalo emang masang tariff 40ribu, ngomong dari awal dong. Awalnya aja bilangnya cuma 11ribu. Kami benar-benar tidak ikhlas. Padahal tiket masuk 13ribu, dan untuk kami bertiga cuma dikasih 1 tiket. Gak berkah tu duit.
Oke, karena udah bayar mahal, kami tak boleh menyia-nyiakan kesempatan. Mulai lah kami berkeliling kawah yang sangat eksotis itu. Dari sudut mana pun terhampar pemandangan yang begitu menakjubkan. Betapa diri ini merasa sangat kecil dihadapan-Nya. Padahal tempat itu hanya setitik dibandingkan bumi. Padahal bumi hanya setitik dibandingkan alam semesta. Betapa kecilnya kami dihadapan-Mu, ya Allah. Tak akan cukup waktu sehari untuk mengabadikan setiap titik di kawasan itu. Di depan kami terlihat kawah yang begitu mempesina, di belakang berdiri megah hamparan gunung-gunung. Sebelah kanan awan putih nan lembut dan kabut tipis menggoda menyapa. Wow, amazing.
Puas foto-foto di sekitar kawah Ratu, kami memutuskan ke kawah Domas. Suasana mistis menyelimuti jalanan menuju kawah Domas. Pohon-pohon dengan bentuknya yang unik menyapa kami. Jalanan yang sepi, kicauan burung menambah suasana menjadi damai. Di tengah perjalanan, rasa ragu menyelimuti naluri kami. Akhirnya kami memutuskan kembali, padahal sudah berjalan beberapa ratus meter. Sampai di sekitar kawah Ratu, kami memutuskan mencari makan siang. Ah, sangat tidak menyenangkan. Jauh-jauh ke Tangkuban Perahu, makanannya bakso Solo, udah gitu lagunya Stasiun Balapan. Ada sisi positifnya sich, berarti masyarakan kita telah menyebar dan menyatu. Tapi kesel juga sich. Maunya kan menikmati makanan khas setempat. Yang paling berkesan tentu saja suara angklung yang begitu indah. Pantas saja Malaysia mengklaim angklung sebagai budayanya. Emang begitu indah dan menenangkan suaranya. Apalagi dinikmati di pegunungan dengan hawa segar dan angin yang sepoi-sepoi. Baru pertama kali ini aku mendengarkan angklung dalam suasana yang damai seperti ini.
Lanjut ah, karena emang udah laper, ya udah lah, bakso Solo juga gak papa. Ternyata oh ternyata, harganya 10 ribu sodara-sodara. Dua kali lipat harga Kalimongso. Padahal di rumah, bakso Kamal pun 3ribu juga bias dapet. Hahaha, efek orang yang terbiasa tinggal di tempat yang biaya hidupnya murah. Akhirnya cari penjual lain, daaaaaaaaaaaaaaannnnnnn, dapet lah semangkok 6 ribu. Inten hebat, nawarnya pake bahasa Sunda lah, hehehehe.
Kami pun menikmati semangkok bakso, segelas bandrek yang ditawar jadi 3 ribu per gelas, dan ketan bakar seharga 10ribu 3. Kayak kaos kaki di pasar malem warung jengkol aja. Beberapa saat kemudian, hujan rintik-rintik menyapa. Ya sudahlah, kami berteduh di gedung pusat informasi. Setelah gerimis reda, kami memutuskan mengelilingi kawah Upas. Tak terlalu jauh memang, palingan 500 meter. Padahal pas tanya ibu-ibu katanya 1200meter. Pas tanya jarak kawah Domas juga segitu. Apa mereka tahunya jarak cuma 1200 meter ya, entahlah. Lupakan saja. Yang jelas berada di kawah Upas sangat menyenangkan. Kami bias berfoto dengan backgroung yang menakjubkan, berteriak sekenceng-kencengnya. Bias tiduran juga lho. Kalo mau mengelilingi bibir kawah, juga bias. 3 jam katanya. Ah, tidak, terima kasih, membayangkan saja sudah ngeri. Apalagi buat aku yang takut ketinggian. Jalanan terjal mendaki dengan kawah nan curam dan dalam tepat di samping kita. Yang jelas bukan keadaan jalannya yang membuatku ngeri. Tepat bibir kawah itu lho. Sebenarnya dalam hati pengen sich, tapi tidak ah.
Setelah puas menikmati kawah Upas, kami memutuskan pulang. Jalan kaki lah, kan
jalanan turun, tidak akan menyita tenaga sebanyak kalau naik. Apalagi tiap 100 meter mungkin, ada shelter. Oke, kami berjalan kaki turun ke gerbang. Melihat ada masjid di parkir bus, kami singgah ke sana, masjid yang menenangkan. Bertahtakan cat hijau muda, sangat menyejukkan. Apalagi airnya yang mak nyes, mengingatkanku pada air di rumah saat subuh, atau air di Tawangmangu lah. Kami beristirahat sejenak setelah sholat di masjid itu. Abis itu, lanjut jalan lagi. Baru berjalan beberapa puluh meter, ada elf GRPP menawarkan tumpangan pada kami. Bayarnya berapa? Cukup 10 ribu bertiga. Gak seperti angkot kuning preman tadi. Huwaaaaaaaaaaa, sampailah kami di gerbang dan disodori hamparan kebun teh. Akhirnya kami foto-foto di kebun teh itu. Gerimis melanda lagi dan pada saat yang bersamaan ada angkot ke Subang, kami pun naik angkot itu. Tarifnya 10ribu sampai Subang.
O ya, tambahan informasi, harusnya di soal budnus gak cuma perbedaan gadis Sunda ma Minahasa, tapi juga perbedaan kebun teh di Subang dan di Karanganyar. Mau tahu jawabannya? Silakan kunjungi Tangkuban Perahu dan Air Terjun Jumog atau Candi Sukuh atau Candi Cetha. Anda akan melihat perbedaannya (malah promosi… biarin, majukan pariwisata domestic kita dong, kalau bukan kita, siapa lagi, kalau bukan sekarang, kapan lagi
Sunday, March 6, 2011
hikmah perjalanan_subang
Pagi hari aku masih sibuk menyiapkan outline yang akan diserahkan ke sekre. Alhamdulillah, urusan outline akhirnya beres. Sampai di kosan, aku langsung mempersiapkan diri, packing2 buat perjalanan ke Subang. Setelah menunggu sang empunya rumah selesai dengan segala keperluannya di kosan, kami berempat meluncur ke jalan Ceger. Kami berempat yang kumaksud adalah aku sendiri, Inten selaku sang empunya rumah, Hani selaku suami nan kekar yang berpoligami, dan Ayu selaku juru masak kos Aliefha. Sekian lama menanti, akhirnya angkot ke Kreo pun datang. Kami langsung menempelkan pantat ke kursi angkot. Di sepanjang perjalanan ke Kreo, ada-ada saja bahan bercandaan kami. Sampai di Kreo, angkot menurunkan kami. Kami pun menyeberangi jalanan nan macet. Aduh, susahnya nyebrang di jalan padat penjuru ibukota.
Setelah melalui perjuangan yang berat menyeberangi jalan, kami menunggu bus yang akan mengantar ke Kampung Rambutan. Entah mengapa daerah ini dinamai Kampung rambutan, padahal aku tak melihat penjual rambutan, pun dengan pohon rambutan. Yang ada malah terminal yang di depannya berdiri megah jalan layang dan jalan tol yang bikin pusing kendaraan karena kalau mau nyebrang jalan aja susahnya bukan main, harus muter dulu ngelewatin tol, meliuk menyusuri jalan, baru deh bisa nyebrang. Setelah sejam lebih di bus ber AC yang gak dingin, kami turun sebelum bus masuk terminal. Ayu yang akan melanjutkan perjalalanan ke Bekasi pun kami tinggal. Maklum, kami bukanlah orang yang sabar menunggu bus yang ngetem. Lima menit berdiri, bus yang akan meluncur ke Subang pun datang. Kami pun naik. Tapi entah mengapa bus cuma muterin jalan tol dan kembali ke posisi semula saat aku dan teman-teman naik bus itu. Lucunya, bus tidak mau masuk terminal dan hanya lewat di depannya saja. Untuk mengantisipasi agar bus tidak masuk terminal, sang kenek pun mengganti papan rute bus dengan kata ‘pariwisata’. Ide yang unik. Setelah melalui terminal, papan rute diputar lagi menjadi Jakarta-Subang. Hal unik pertama yang aku peroleh dari perjalanan kali ini.
Kadang aku kasian sama PO-PO itu. Apakah mereka bias menutupi paling nggak cost sekali jalan. Bus yang aku tumpangi tidak penuh. Mungkin karena kebanyakan orang sekarang lebih memilih kendaraan pribadi. Aku pun sejujurnya juga akan lebih memilih naik kendaraan pribadi kalau bukan keadaan terpaksa.
Setelah berkutat di bus Jakarta-Subang selama tiga jam, sampailah kami di rumah bercat hijau nan menyejukkan mata di Perum dekat terminal Subang, yah, di tempat itulah untuk beberapa hari kami akan menghabiskan waktu. Keluarga Inten, bersabarlah menghadapi kami untuk beberapa hari ke depan.
Setelah melalui perjuangan yang berat menyeberangi jalan, kami menunggu bus yang akan mengantar ke Kampung Rambutan. Entah mengapa daerah ini dinamai Kampung rambutan, padahal aku tak melihat penjual rambutan, pun dengan pohon rambutan. Yang ada malah terminal yang di depannya berdiri megah jalan layang dan jalan tol yang bikin pusing kendaraan karena kalau mau nyebrang jalan aja susahnya bukan main, harus muter dulu ngelewatin tol, meliuk menyusuri jalan, baru deh bisa nyebrang. Setelah sejam lebih di bus ber AC yang gak dingin, kami turun sebelum bus masuk terminal. Ayu yang akan melanjutkan perjalalanan ke Bekasi pun kami tinggal. Maklum, kami bukanlah orang yang sabar menunggu bus yang ngetem. Lima menit berdiri, bus yang akan meluncur ke Subang pun datang. Kami pun naik. Tapi entah mengapa bus cuma muterin jalan tol dan kembali ke posisi semula saat aku dan teman-teman naik bus itu. Lucunya, bus tidak mau masuk terminal dan hanya lewat di depannya saja. Untuk mengantisipasi agar bus tidak masuk terminal, sang kenek pun mengganti papan rute bus dengan kata ‘pariwisata’. Ide yang unik. Setelah melalui terminal, papan rute diputar lagi menjadi Jakarta-Subang. Hal unik pertama yang aku peroleh dari perjalanan kali ini.
Kadang aku kasian sama PO-PO itu. Apakah mereka bias menutupi paling nggak cost sekali jalan. Bus yang aku tumpangi tidak penuh. Mungkin karena kebanyakan orang sekarang lebih memilih kendaraan pribadi. Aku pun sejujurnya juga akan lebih memilih naik kendaraan pribadi kalau bukan keadaan terpaksa.
Setelah berkutat di bus Jakarta-Subang selama tiga jam, sampailah kami di rumah bercat hijau nan menyejukkan mata di Perum dekat terminal Subang, yah, di tempat itulah untuk beberapa hari kami akan menghabiskan waktu. Keluarga Inten, bersabarlah menghadapi kami untuk beberapa hari ke depan.
kekuatan secoret tanda tangan
Outline, outline, akhirnya ditandatangani juga. Lucu juga proses persetujuan outline kami. Aku dan teman-teman sedosbing sudah dibuat galau karena tidak adanya kabar sama sekali selama, tunggu kuhitung dulu, hmmmmmmm 16 hari lah. Yah, aku dan teman-teman sedosbing yang semuanya cowok memang sudah diminta membuat outline dalam jangka waktu tiga hari semenjak pertemuan perdana kami dengan sang dosbing. Hari Jumat sebelum UAS outline sudah kukirim dan dosen baru bias dihubungi hari minggu setelah UAS, padahal UAS kami dua minggu. Hmmmmmmmm, waktu yang lumayan lama tanpa kabar sukses membuat kami galau, kata yang sedang popular saat ini. Apalagi UAS selesai hari jumat, otomatis setelah itu aku nganggur tanpa kerjaan dan kepastian. Apalgi hujan turun sepanjang hari. Alhasil rencana jalan-jalan keliling Jakarta harus ditunda. Betapa membosankan. Untuk mengisi waktu, kadang kami anak sekosan melakukan hal-hal geje. Untungnya anak kosan masih lengkap karena mengalami nasib yang sama, belum ada kepastian dari dosen tanteng nasib outline. Hari minggu setelah UAS, datanglah sms yang cukup menghibur. Pak dosbing mau ketemu, tapi waktu dan tempat belum pasti. Beliau juga udah tahu batas akhir outline hari Jumat. Ah, lega, paling nggak ada sedikit kepastian. Maka rencana maen ke Subang hari Selasa diundur sehari, karena berbagai alasan. Mulai ketemu sama dosen, nyuci baju, beres-beres kosan, deelel.
Hari senin; ujan turun sepanjang pagi, alhasil rencana ke dufan gatot. Pasti jalanan macet karena banjir. Akhirnya lumutan di kamar, nonton film sambil teriak-teriak gak jelas.
Selasa: lamanyo nunggu jam 2. Jam 1 kurang 5 menit datanglah sebuah sms. Jeng jeng jeng, dosen minta ketemuan jam 1 sampai 1.30. aku ngedumel gak jelas, outline belum di print, untung dah mandi. Aku pun jadi ngelantur gak jelas. Muka pun kusut. Akhirnya ngeprint lembar persetujuan aja, biarin ah. Setelah ngeprint lembar persetujuan, aku pun berlari menuju gedung i. sesuai perkiraan, ada temanku yang belum dating. Setelah dibaca sekilas, lembar persetujuan pun ditandatangani. Lega rasanya. Jam 2 kurang seperempat aku dan teman-teman sedosbing meninggalkan gedung i. Muka kami pun cerah ceria. Secoret tanda tangan mampu mengubah suasana hatiku seketika.
sampai kosan, aku mengedit sedikit outlineku. Maklum, salah margin, tinggal diatur-atur aja, beres, diprint, dijilid. Keesokan harinya kuserahkan ke sekre untuk dikumpulkan dan ditandatangani ajun akuntan. Oke, urusan outline beres. Saatnya focus liburan dan menyicil KTTA.
Hari senin; ujan turun sepanjang pagi, alhasil rencana ke dufan gatot. Pasti jalanan macet karena banjir. Akhirnya lumutan di kamar, nonton film sambil teriak-teriak gak jelas.
Selasa: lamanyo nunggu jam 2. Jam 1 kurang 5 menit datanglah sebuah sms. Jeng jeng jeng, dosen minta ketemuan jam 1 sampai 1.30. aku ngedumel gak jelas, outline belum di print, untung dah mandi. Aku pun jadi ngelantur gak jelas. Muka pun kusut. Akhirnya ngeprint lembar persetujuan aja, biarin ah. Setelah ngeprint lembar persetujuan, aku pun berlari menuju gedung i. sesuai perkiraan, ada temanku yang belum dating. Setelah dibaca sekilas, lembar persetujuan pun ditandatangani. Lega rasanya. Jam 2 kurang seperempat aku dan teman-teman sedosbing meninggalkan gedung i. Muka kami pun cerah ceria. Secoret tanda tangan mampu mengubah suasana hatiku seketika.
sampai kosan, aku mengedit sedikit outlineku. Maklum, salah margin, tinggal diatur-atur aja, beres, diprint, dijilid. Keesokan harinya kuserahkan ke sekre untuk dikumpulkan dan ditandatangani ajun akuntan. Oke, urusan outline beres. Saatnya focus liburan dan menyicil KTTA.
Sunday, February 13, 2011
bimbang
Kebimbangan memang sempat menghantui sampai-sampai saya membuat 2 outline untuk diajukan ke dosen pembimbing. Ada beberapa factor yang membuat saya melakukan hal tersebut.
Pertama data sudah jelas saya dapat, tapi saya masih belum tahu akan membahas apa. Apalagi saya khawatir kalau pembahasan saya justru masuk ranah mata kuliah lain.
Kedua saya masih balum yakin data saya dapat dan saya juga masih belum tahu apakan datany tersedia, tapi saya sudah yakin apa yang akan saya bahas
Sampai-sampai jika satu diantara dua tema yang saya ajukan ditolak semuanya, saya sudah merancang plan C. saat ini sudah mencoba mencari link walau sebatas baru bertanya dimana mengambil data dan belum melakukan pendekatan secara langsung. Walau mungkin plan C ini paling menantang.
Belum lagi dalam hitungan hari, UAS menghadang di depan mata. Padahal nilai UTS juga tidak dapat diandalkan. Apalagi untuk pertama kalinya dalam sejarah dipanggil; dosen gara-gara nilai kurang. Ya Allah, mudahkanlah semuanya.
Beginilah memang kegalauan anak tingkat 3 yang akan menghadapi UAS dan KTTA. Semoga semuanya dimudahkan, amin.
Pertama data sudah jelas saya dapat, tapi saya masih belum tahu akan membahas apa. Apalagi saya khawatir kalau pembahasan saya justru masuk ranah mata kuliah lain.
Kedua saya masih balum yakin data saya dapat dan saya juga masih belum tahu apakan datany tersedia, tapi saya sudah yakin apa yang akan saya bahas
Sampai-sampai jika satu diantara dua tema yang saya ajukan ditolak semuanya, saya sudah merancang plan C. saat ini sudah mencoba mencari link walau sebatas baru bertanya dimana mengambil data dan belum melakukan pendekatan secara langsung. Walau mungkin plan C ini paling menantang.
Belum lagi dalam hitungan hari, UAS menghadang di depan mata. Padahal nilai UTS juga tidak dapat diandalkan. Apalagi untuk pertama kalinya dalam sejarah dipanggil; dosen gara-gara nilai kurang. Ya Allah, mudahkanlah semuanya.
Beginilah memang kegalauan anak tingkat 3 yang akan menghadapi UAS dan KTTA. Semoga semuanya dimudahkan, amin.
Subscribe to:
Posts (Atom)